Wartawan India Yang Tak Kenal Erti Takut Dibunuh

Seorang wartawan India yang tak kenal erti takut dengan ugutan bunuh, iaitu Gauri Lankesh.

Dia dikenali sebagai orang yang lantang menyuarakan idea kritis terhadap kelompok nasionalis Hindu dan pemerintah yang berkuasa.

Wartawan senior Gauri Lankesh sedang berbicara di sebuah pertemuan terbuka di New Delhi.

Dia mengungkapkan kebimbangan mengenai ruang perbezaan pendapat di negara bahagian asalnya, Karnataka dan India pada amnya.

Itu terjadi pada bulan Mac tahun ini. Lankesh mengingat kembali beberapa pemikir rasionalis lama terbunuh karena pandangan mereka yang tidak dikompromi.

Awal bulan September, Gauri Lankesh yang berusia 55 tahun ditemukan tergeletak bersimbah darah di luar rumahnya di kota bahagian selatan, Bangaluru.

Sunil Kumar, Komisaris Polisi Bangaluru, mengatakan sebuah kamera CCTV di rumah Lankesh merakam pembunuhan mengerikan tersebut.

“Rakaman itu menunjukkan satu orang menembak dia ketika  sedang berjalan menuju rumahnya. Saat dia cedera akibat terluka, orang ini tetap berjalan pergi,” jelas Kumar.

Berita tentang pembunuhan Lankesh tersebar dengan cepat. Di beberapa kota, orang-orang turun ke jalan, mengutuk pembunuhan itu dan menuntut pertanggungjawaban.

Sandhia Chander, jurnalis berusia 32 tahun, bergabung dalam demonstrasi di New Delhi.

“Ini situasi yang menakutkan bagi wartawan untuk terus bekerja. Kami kerap dilecehkan dan diserang di media sosial tapi sekarang bahaya seperti penembakan, sudah sampai di depan pintu kami,” tutur Chander. 

“Sudah saatnya wartawan di negeri ini bersatu dan menuntut agar pemerintah memberi hak kebebasan berbicara dan berekspresi sepenuhnya kepada jurnalis dan memungkinkan kami melaksanakan tugas dengan perlindungan yang penuh.”

Gauri Lankesh dikenal karena pandangannya yang vokal, liberal dan berseberangan dengan pemerintah. Dia gigih mengkritik aktivitas politik nasionalis Hindu dan menggunakan surat khabar mingguannya yang berbahasa Kannad, Gauri Lankesh Patrike, untuk mengadvokasi kelompok Dalit dan komuniti terpinggir lainnya.

Serangannya yang pedas terhadap kelompok ekstremis Hindu dan pemerintah BJP membuatnya dikagumi juga dimusuhi. Saat serangan meningkat, teman-teman Lankesh seperti KM Chetanya mencoba memujuknya supaya lebih berlembut.

“Dalam 3-4 tahun terakhir serangan menjadi sangat ganas. Tapi dia mengatakan tidak menyakiti siapapun, dia tidak menganjurkan kekerasan apapun, dia hanya berbicara tentang fikirannya dan dia punya hak untuk mengungkapkan isi fikirannya. Jadi memurutnya dia tidak mungkin menahan apa yang dia fikir benar,” ujar Chetanya. 

Polisi belum menemukan petunjuk tentang pembunuh Lankesh tapi banyak orang punya kecurigaan sendiri. Ekstremis Hindu merayakan pembunuhannya di media sosial, memaki dan menghina dia bahkan setelah kematiannya.

Wartawan senior Siddharth Vardarajan mengatakan bagi ramai orang menyatakan hubungannya kelihatan jelas.

“Ada rasa bersalah dari orang-orang yang mengatur pembunuhan itu. Ada rasa bersalah orang-orang yang senang dia meninggal dan orang-orang ini tidak menyembunyikan apa yang mereka percaya dan menunjukkan kegembiraan mereka di laman media sosial hari ini. Jadi tidak sukar bagi orang yang berfikiran waras untuk menyiasat mengenai orang-orang ini,” jelas Vardarajan.

Parti oposisi utama mengatakan rencana pembunuhan itu berasal dari tingkat yang lebih tinggi. Mereka menyalahkan Parti Bharatiya Janata (BJP) yang berkuasa dan organisasi induknya Rashtriya Swayamsevak Sangh (RSS). Keduanya adalah kelompok Nasionalis Hindu.

“Ini adalah filosofi. Siapa pun yang bicara menentang ideologi BJP dan RSS, akan ditekan, dipukuli, diserang dan bahkan dibunuh. Gagasannya hanya ada satu suara di negeri ini” kata Rahul Gandhi, Wakil Presiden partai oposisi, Kongres Nasional India.

Tapi BJP berbalik dengan menyalahkan Partai Kongres yang menguasai pemerintahan di negara bagian Karnataka. Yogesh Verma adalah juru bicara BJP.

“Jika dia adalah seorang wartawan pemberani dan mengungkapkan pandangannya tanpa rasa takut, mengapa pemerintah negara bahagian tidak melindunginya? Mengapa dia tidak dilindungi? Ini hanyalah untuk mencemarkan nama baik kelompok sayap kanan dan menggagalkan penyelidikan,” kata Verma.

Siapa pun yang membunuh Gauri Lankesh, faktanya tetap bahwa India adalah salah satu negara di dunia yang paling berbahaya bagi wartawan.

Menurut pemantau media nirlaba, The Hoot, ada 54 kali penyerangan terhadap wartawan India dalam kurun kurang dari dua tahun. Dalam Indeks Kebebasan Pers Dunia 2017, India berada di peringkat 136 dari 180 negara, di bawah negara tetangga Nepal dan Afghanistan.

“Sebagai orang India saya merasa malu. Ternyata Afghanistan yang dilanda perang berada di atas kami. Wartawan lebih aman di Afghanistan yang dilanda perang daripada di negara demokrasi, di India. Tidak mungkin ada komentar buruk mengenai keadaan di sini,” keluh Analis politik Javed Ansari.

Tapi wartawan senior Siddharth Varadarajan percaya, wartawan sendiri, setidaknya sebagian, bertanggung jawab atas memburuknya situasi kebebasan di India.

“Dalam situasi saat ini, saluran-saluran besar media India percaya, lebih penting bagi wartawan untuk mendukung apapun sikap pemerintah dan menyerang orang-orang yang mengkritik pemerintah. Jika ini menjadi budaya media, maka saya khawatir orang-orang seperti Gauri Lankesh akan menonjol. Dan akan mudah bagi musuh-musuh demokrasi untuk memilih dan menembak mereka, seperti yang terjadi pada Gauri,” kata Vardarajan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.